Category: News

Geopolitik dan Dampak pada Dunia Usaha

Jakarta (VLF) “I’m not going to start wars, I’m going to stop wars,” ujar Presiden Donald Trump saat pidato kemenangan pemilu presiden Amerika Serikat (AS) pada 6 November 2024. Kendati demikian, perang Iran yang diawali serangan Israel-AS ke Teheran pada 28 Februari 2026 mempertegas bahwa ucapan tak lebih dari sekadar wacana belaka.

Agaknya, yang tak terpikirkan oleh AS-Israel adalah bahwa perang Iran berdampak serius terhadap suplai energi global. Jauh lebih besar cakupan dampaknya dibandingkan dengan perang 12 hari ketika Israel menyerang Iran pada Juni 2025.

Sejak serangan pertama dimulai, harga minyak dunia terus melambung signifikan. Mencapai level tertinggi pada 9 Maret 2026 dengan rata-rata USD119 per barel. Jika dibandingkan dengan perang Ukraina, akselerasi kenaikan harga minyak mentah akibat perang Iran jauh lebih cepat.

Pada perang Iran kali ini, harga minyak mentah melompat di atas USD100 per barel hanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Sementara ketika perang Ukraina pada Februari 2022, lonjakan harga minyak membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk mencapai level di atas USD100 per barel.

Penutupan Selat Hormuz adalah faktor kunci kenaikan harga minyak. Selat Hormuz menyuplai 20% minyak mentah dunia. Dan 80% di antaranya dikirim ke negara-negara di Asia.
Kalkulasi IMF menunjukkan, setiap kenaikan 10% harga minyak mentah dunia berpotensi mengerek inflasi 0,4 poin. Menggunakan asumsi harga minyak mentah per 6 April 2026 dibandingkan dengan harga pada 28 Februari 2026, maka telah terjadi kenaikan harga minyak mentah sebesar 55%. Dengan demikian, inflasi global berpotensi meningkat 2,2 poin.

Kenaikan biaya energi dan inflasi global ini berpotensi menekan daya beli konsumen di dalam negeri. Kekhawatiran terhadap potensi naiknya harga BBM bersubsidi memicu gejala panic buying di beberapa daerah, seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Meski demikian, sampai saat ini belum ada wacana pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi.

Jika harga minyak mentah terus bertahan di atas USD100 per barel, beban fiskal akan meningkat tajam. Estimasi CORE Indonesia menunjukkan, jika harga BBM bersubsidi naik di level USD105 per barel dengan asumsi kurs Rp17.000, subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah menjadi Rp433 triliun, atau meningkat 106% dibandingkan alokasi di dalam APBN 2026. Hal ini berpotensi mendorong defisit melampaui batas legal 3%.

Dunia Usaha Tertekan

Mencermati perkembangan geopolitik terbaru, sumbatan lalu lintas energi di Selat Hormuz tampaknya belum akan terurai dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi seperti ini, tentu saja, membuat dunia usaha semakin tertekan. Kalaupun sumbatan di Selat Hormuz relatif terbuka, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan distribusi minyak mentah dunia.

Masalahnya, kondisi Indonesia saat ini tidak lebih beruntung dibandingkan dengan negara lain. Selain infrastruktur tangki yang terbatas, juga karena negara lain tengah berburu minyak mentah untuk mengamankan pasokan domestik masing-masing. Negara-negara eksportir minyak, seperti Thailand, juga sudah mulai membatasi ekspor.

Berdasarkan informasi kementerian ESDM, tangki minyak di Indonesia hanya mampu menyimpan persediaan minyak sampai kurang lebih 20 hari. Sementara negara lain, seperti Jepang dan Korea Selatan memiliki infrastruktur tangki penyimpanan minyak untuk masing-masing 254 dan 251 hari.

Dengan naiknya harga minyak dunia, biaya produksi industri manufaktur otomatis akan meningkat. Pada saat yang sama, terus melemahnya nilai tukar rupiah akibat tingginya imbal hasil obligasi AS membuat investor asing cenderung menjual rupiah dan memilih dolar AS. Melemahnya nilai tukar rupiah juga secara signifikan menaikkan biaya produksi, sebab biaya impor bahan baku menjadi lebih mahal.

Perkiraan saya, industri kecil dan menengah (IKM) akan merasakan dampak paling signifikan. IKM pada umumnya tidak memiliki ruang finansial yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya produksi akibat melambungnya biaya bahan baku dan energi. Sementara industri besar dan sedang (IBS) cenderung memiliki ruang finansial untuk mengelola potensi kenaikan biaya produksi.

Berdasarkan catatan BPS, pada 2024, terdapat kurang lebih 4,4 juta IKM dengan sekitar 75% di antaranya bergerak di industri makanan, pakaian jadi, tekstil, dan industri kerajinan. Keempat jenis industri ini menyerap 6,8 juta tenaga kerja. Jika biaya produksi terus melambung, tidak ada pilihan lain bagi dunia usaha kecuali berhemat dengan merumahkan karyawan dan memangkas kuantitas produk. Dampaknya, upah pekerja terpangkas dan berdampak pada konsumsi rumah tangga.

Dalam situasi konflik, memang tak banyak yang bisa dilakukan. Keadaan juga cenderung berubah dengan cepat. Tapi, pilihan kebijakan ekonomi yang tepat setidaknya bisa mengobati potensi tekanan yang semakin kuat.

*Azhar Syahida. Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Jakarta.
(Sumber:Geopolitik dan Dampak pada Dunia Usaha.)

Sempat Ditunda, Purbaya Mau Pungut Pajak Toko Online Pertengahan 2026

Jakarta (VLF) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menunjuk platform e-commerce dalam negeri sebagai pemungut pajak atas transaksi penjualan barang oleh merchant yang berjualan di platform mereka.

Jika kinerja ekonomi pada kuartal II-2026 tumbuh dalam tren positif, kebijakan tersebut akan mulai diterapkan.

“Kalau triwulan kedua masih bagus (ekonominya), kita akan pertimbangkan (penerapan) untuk juga sekaligus membuat persaingan antara online sama offline lebih fair, tentunya dengan analisa yang clear dari data-data yang kita miliki,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).

Purbaya menjelaskan kebijakan tersebut semula akan diterapkan di 2025, namun ditunda lantaran kondisi ekonomi Indonesia belum stabil. Seiring membaiknya perekonomian, pemerintah membuka peluang untuk kembali melanjutkan rencana tersebut.

“Sebenarnya Dirjen Pajak sudah punya rencana untuk mengenakan pajak kepada online transaction kan, tetapi waktu itu ekonomi masih agak terganggu, jadi kita belum melaksanakannya. Sekarang sudah lumayan nih,” ujarnya.

Rencana kebijakan tersebut diambil untuk menindaklanjuti keluhan dari pedagang offline lantaran barang-barang yang berasal dari China membanjiri pasar e-commerce.

Oleh karena itu, pemerintah menetapkan aturan yang mewajibkan penyelenggara platform digital seperti marketplace untuk memungut pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,5% dari omzet penjual yang bertransaksi secara daring. Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025.

Aturan ini menyasar pelaku usaha dalam negeri yang berjualan melalui perdagangan elektronik. Marketplace hingga platform luar negeri yang memenuhi kriteria tertentu akan ditunjuk oleh DJP sebagai pemungut pajak.

Merujuk Pasal 8 beleid tersebut, besarnya pungutan PPh 22 yaitu sebesar 0,5% dari peredaran bruto yang diterima atau diperoleh pedagang dalam negeri yang tercantum dalam dokumen tagihan, tidak termasuk pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPnBM.

Sementara pada Pasal 6 ayat (2), pedagang orang pribadi (OP) dengan omzet tahunan sampai dengan Rp 500 juta tidak dikenakan pungutan, dengan syarat menyampaikan surat pernyataan omzet kepada marketplace. Jika omzet melebihi Rp 500 juta dalam tahun berjalan, mereka juga wajib melaporkan lewat surat pernyataan kepada platform marketplace.

(Sumber:Sempat Ditunda, Purbaya Mau Pungut Pajak Toko Online Pertengahan 2026.)

Belanja Negara Meningkat 31,4%, APBN Tekor Rp 240 Triliun di Maret 2026

Jakarta (VLF) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Maret 2026 defisit sebesar Rp 240,1 triliun. Realisasi itu setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN itu berarti pendapatan negara lebih kecil dibanding jumlah pengeluaran atau belanja negara. Tercatat pendapatan negara sampai 31 Maret 2026 terkumpul Rp 574,9 triliun atau naik 10,5% yoy, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 815 triliun atau meningkat 31,4% yoy.

“Dengan demikian defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Ketika ada defisit, masyarakat atau bapak ibu jangan kaget karena memang anggaran kita didesain defisit,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).

Lebih rinci diketahui, pendapatan negara yang terkumpul Rp 574,9 triliun berasal dari penerimaan pajak Rp 394,8 triliun (naik 20,7%), kepabeanan dan cukai Rp 67,9 triliun (turun 12,6%), serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 112,1 triliun (turun 3%).

Sementara itu, belanja negara yang mencapai Rp 815 triliun berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 610,3 triliun (naik 47,7%), serta transfer ke daerah Rp 204,8 triliun (turun 1,1%).

“Belanja negara lebih cepat tumbuh tinggi 31,4% yoy, jauh lebih tinggi dari tahun lalu yang tumbuhnya 1,4% yoy. Kalau orang bertanya kenapa sekarang lebih cepat? Karena memang kita maunya begitu, kita ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan hampir merata sepanjang tahun sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun,” jelas Purbaya.

“Jadi strategi kita ini mulai berhasil, harusnya dampak ke ekonomi juga lebih bagus,” tambahnya.

(Sumber:Belanja Negara Meningkat 31,4%, APBN Tekor Rp 240 Triliun di Maret 2026.)

Anggota DPR Tepuk Tangan Saat Purbaya Jamin BBM Subsidi Tak Akan Naik di 2026

Jakarta (VLF) – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjamin tak ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026. Namun, dia tak memberi kepastian pada BBM nonsubsidi.

Hal itu disampaikan Purbaya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di DPR RI, Jakarta, Senin (6/4/2026). Awalnya Ketua Komisi XI DPR M Misbakhun yang meminta kepastian kepada Purbaya terkait nasib BBM.

“Saya ingin memastikan lagi ini pak, ini yang bapak sampaikan terakhir ini sangat penting ini pak untuk diketahui masyarakat bahwa exercise BBM di harga 80 (dolar AS/barel) , 90 (dolar AS/barel), dan 100 (dolar AS/barel) pun negara sudah siap ya pak ya?” tanya Misbakhun.

Purbaya memastikan sudah siap dengan asumsi hingga USD 100 per barel. Dia mengatakan pemerintah siap jika kondisi tersebut berlangsung hingga akhir tahun 2026.

“Sudah siap, yang kemarin diumumkan itu dengan asumsi USD 100 jadi kita sudah siap kalau sampai sana,” jawab Purbaya.

“Siap sampai akhir tahun?” tanya Misbakhun lagi.

“Sampai akhir tahun,” jawab Purbaya.

Misbakhun lalu bertanya apakah kesiapan itu termasuk tidak menaikkan harga BBM. Purbaya mengamini. Para anggota Komisi XI DPR pun menyambut dengan tepuk tangan.

“Nah ini yang harus masyarakat tahu pak bahwa pemerintah siap untuk tidak menaikkan sampai di akhir tahun,” ucap Misbakhun.

“Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi dengan asumsi harga minyak rata-rata USD 100 per barel sampai akhir tahun sudah dihitung,” kata Purbaya disambut tepuk tangan.

Purbaya lalu mengatakan kepastian itu hanya untuk BBM subsidi. Dia mengimbau publik tidak perlu takut atau cemas.

“Tidak ada (kenaikan) untuk yang bersubsidi ya, yang nonsubsidi bukan hitungan kita ya, karena nggak ada di anggaran kita ya, jadi yang bersubsidi sampai akhir tahun aman. Jadi masyarakat luar nggak usah ribut, nggak usah takut, kita sudah hitung,” ujarnya.

(Sumber:Anggota DPR Tepuk Tangan Saat Purbaya Jamin BBM Subsidi Tak Akan Naik di 2026.)

Streaming Sama-Royalti Jomplang, RI Desak Keadilan di Platform Digital

Jakarta (VLF) – Pemerintah Indonesia menyoroti ketimpangan royalti di platform digital global, di mana jumlah streaming yang sama belum tentu menghasilkan bayaran yang setara bagi kreator.

Isu ini menjadi fokus dalam forum ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation (AWGIPC) ke-78 di Bali, 6-10 April 2026.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, Hermansyah Siregar, mengatakan kondisi tersebut banyak dialami kreator dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Ketika kreator Indonesia punya lagu di platform musik digital, jumlah live streaming-nya misalnya turunlah 5.000 dan di belahan dunia sana, ada juga kreator yang punya live streaming yang jumlahnya sama 5.000, namun royaltinya yang belum sama diterima oleh para kreator kita. Jadi jumlah streaming yang sama tapi royalti yang belum sama, karena standar dari platform-platform musik itu yang berbeda terkait dengan royalty untuk tiap-tiap negara,” ungkapnya, Senin (6/4/2026).

“Isu ini mau kita perjuangkan agar tata pola platform musik digital itu lebih berkeadilan dan kita minta terkait dengan adanya transparansi terkait dengan CMO lintas batas, penarikan royalti lintas batas negara, itu nanti diatur lebih tertata lagi,” imbuhnya.

Menurutnya, perbedaan standar di tiap platform digital membuat kreator Indonesia kerap menerima royalti lebih rendah dibanding kreator di negara lain, meskipun tingkat konsumsi karyanya setara.

Karena itu, Indonesia mendorong transparansi dalam pengelolaan royalti lintas negara, termasuk penguatan peran lembaga manajemen kolektif (collective management organization/CMO) serta pengaturan metadata secara global.

Indonesia juga mengusulkan pembentukan instrumen hukum internasional yang mengikat agar tata kelola royalti tidak hanya bergantung pada mekanisme privat platform digital, tetapi memiliki standar global yang adil dan seragam.

“Tujuannya jelas, agar kreator kita mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih layak. Ke depan, kita tidak ingin lagi mendengar pencipta lagu hidup dalam kesulitan, padahal karyanya dinikmati secara luas,” tegasnya.

Selain isu royalti, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut menjadi perhatian. Pemerintah Indonesia saat ini tengah merumuskan kebijakan untuk memastikan pemanfaatan AI tetap melindungi hak kekayaan intelektual.

“AI adalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Harus ada kejelasan antara karya yang murni dihasilkan manusia dan yang dihasilkan dengan bantuan AI,” ujarnya.

Di sisi lain, ASEAN meluncurkan ASEAN Patent Examination Cooperation Plus (ASPEC+) untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas pemeriksaan paten antarnegara.

Indonesia juga mendorong percepatan implementasi ASEAN IP Action Plan 2030, termasuk peningkatan layanan kekayaan intelektual, perlindungan UMKM dan industri kreatif, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam evaluasi kawasan, negara-negara ASEAN saat ini berada di kisaran peringkat 30 hingga 50 dalam Global Innovation Index. Karena itu, diperlukan langkah kolektif untuk meningkatkan daya saing inovasi di tingkat global.

Di sela forum, Indonesia turut menampilkan produk berbasis kekayaan intelektual dari Bali, mulai dari indikasi geografis hingga produk UMKM, sebagai bukti bahwa perlindungan KI berdampak langsung pada ekonomi lokal.

Dorongan ini menandai meningkatnya tekanan dari negara-negara berkembang terhadap sistem ekonomi digital global yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kreator.

(Sumber:Streaming Sama-Royalti Jomplang, RI Desak Keadilan di Platform Digital.)

Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,33%, Lampaui Rata-rata Nasional

Jakarta (VLF) – Perekonomian Sumatera Selatan (Sumsel) menunjukkan kinerjanya di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Pertumbuhan ekonomi daerah ini tercatat tumbuh 5,33 persen melampaui rata-rata nasional.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, mengatakan bahwa kondisi global yang memanas tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.

“Pertumbuhan ekonomi kita meskipun dalam suasana global yang memanas ini kita masih bisa tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sumsel saat ini mencapai angka yang cukup menggembirakan dan berada di atas capaian nasional.

“Pertumbuhan ekonomi saat ini tercatat sebesar 5,33 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,11 persen,” katanya.

Selain itu, tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Selatan juga berhasil ditekan, yang menunjukkan perbaikan pada sektor ketenagakerjaan.

“Sementara tingkat pengangguran terbuka juga berhasil ditekan hingga 3,89 persen pada tahun 2025,” jelasnya.

Herman Deru menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan ke depan.

“Capaian ini adalah hasil kerja bersama seluruh elemen, sekaligus menjadi bahan refleksi untuk terus melangkah lebih baik ke depan,” jelasnya.

Di sisi lain, Pemprov Sumsel berkomitmen mengejar 12 program strategis sebagai prioritas pembangunan daerah di tahun mendatang.

“Berbagai upaya dan langkah akan terus dilakukan dalam meningkatkan pembangunan melalui 12 program strategis dan prioritas,” ujarnya.

Deru mengatakan, program tersebut mencakup pembangunan New Palembang Port di Banyuasin, kelanjutan layanan kesehatan gratis (Berkat), ketahanan pangan, pendidikan berkeadilan, hingga infrastruktur merata.

Lalu, di sektor ekonomi terdapat program 100 ribu Sultan Muda Sumsel disiapkan untuk mencetak wirausaha muda di berbagai sektor

“Untuk program 100 ribu Sultan Muda Sumsel, kami akan fasilitasi modal usaha bersama perbankan, BUMN, dan BUMD, serta perbanyak pelatihan skill bagi anak muda,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah menargetkan 100 persen desa teraliri listrik dan bebas blank spot internet. Dari sisi budaya dan agama, direncanakan pembangunan Masjid Raya Sumsel dan pelestarian aksara ulu.

Herman deru mengatakan, pariwisata dipacu lewat Sumsel Wonderful 2030 dengan mengandalkan event ikonik dan wisata kuliner lokal.

“Kami berkomitmen membangun pemerintahan yang bersih, responsif, dan melayani masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa program ini juga menyentuh kesejahteraan perempuan dan anak serta revitalisasi pasar tradisional sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

“Program ini juga menyentuh kesejahteraan perempuan dan anak, termasuk mendukung program makan bergizi gratis dan penguatan hak penyandang disabilitas. Pasar tradisional pun akan kita revitalisasi agar menjadi sentra ekonomi kerakyatan yang kuat,” tuturnya.

(Sumber:Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,33%, Lampaui Rata-rata Nasional.)

Suntikan Utang Ratusan Triliun untuk MBG hingga Kopdes Merah Putih

Jakarta (VLF) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit untuk penguatan ekonomi desa lewat program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah menembus Rp 174 triliun. Angka jumbo ini menjadi porsi terbesar dari penyaluran kredit lembaga jasa keuangan untuk tiga program strategis Presiden Prabowo Subianto.

Selain koperasi desa, OJK juga mencatat pembiayaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan 3 juta rumah. Hingga Januari 2026, total penyaluran kredit untuk dua program tersebut mencapai triliunan rupiah.

“Kami telah mendorong berbagai program strategis Seperti makan bergizi gratis dengan realisasi pembiayaan mencapai Rp 1,21 triliun,” ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Untuk program MBG, realisasi kredit tercatat sebesar Rp 1,21 triliun yang disalurkan kepada 1.373 SPPG. Penyaluran ini merupakan bagian dari komitmen OJK dalam mendukung program pemerintah melalui sektor jasa keuangan.

Wanita yang akrab disapa Kiki itu menambahkan, dukungan terhadap program MBG juga dilakukan melalui skema securities crowdfunding yang melibatkan tiga penerbit dan 266 pemodal. Selain itu, OJK memberikan insentif khusus bagi lembaga jasa keuangan guna memperluas akses pendanaan.

Kredit Koperasi Desa Dominan

Kiki menjelaskan, penyaluran kredit untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mencapai Rp 174 triliun. Pembiayaan ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi desa secara masif.

“Penguatan ekonomi desa juga dilakukan melalui pembiayaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang juga kami lihat sudah mencapai angka Rp 174 triliun,” jelasnya.

Pembiayaan Program 3 Juta Rumah

Sementara itu, untuk program pembangunan 3 juta rumah, OJK mencatat realisasi kredit sebesar Rp 1,44 triliun. Dana tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan 11.468 unit rumah.

“Dukungan terhadap program 3 juta rumah dengan realisasi Rp 1,44 triliun untuk 11.468 unit, untuk memperluas akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” pungkasnya.

(Sumber:Suntikan Utang Ratusan Triliun untuk MBG hingga Kopdes Merah Putih.)

Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, AS Minta Selat Hormuz Dibuka

Jakarta (VLF) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta gencatan senjata. Namun, AS hanya akan mempertimbangkan tawaran tersebut jika Selat Hormuz sudah dibuka, bebas, dan aman.

“Sampai itu terjadi, kami akan menghancurkan Iran sampai habis atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!” tulis Trump di Truth Social, dikutip dari CNBC, Kamis (2/4/2026).

Iran kemudian membantah bahwa mereka meminta gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan pihaknya tidak meminta gencatan senjata, melainkan ingin mengakhiri perang.

“Saat ini tidak ada negosiasi,” kata Araghchi.

Belum jelas apakah permintaan itu disampaikan langsung ke AS, seperti yang sebutkan Trump, atau melalui perantara seperti Pakistan. Bahkan jika Masoud Pezeshkian memang meminta gencatan senjata, belum tentu ia memiliki keputusan akhir.

Hal ini disebabkan karena pemimpin tertinggi Iran bukanlah presiden melainkan melainkan Ayatollah Mojtaba Khamenei. Namun, Mojtaba yang merupakan penerus ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei belum muncul di hadapan publik sejak menjabat.

Kedua pihak sering saling bertentangan dalam klaim mengenai ada atau tidaknya pembicaraan damai sejak perang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel ke Iran.

Perang yang sudah berlangsung sebulan ini dengan cepat memicu gejolak ekonomi luas dan fluktuasi besar harga energi global. Gejolak itu sebagian besar dipicu oleh kemampuan Iran untuk terus menghambat Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman sebagian besar minyak dunia.

Trump mengakui bahwa selat tersebut tetap menjadi titik krusial dalam perang, meskipun ia dan pejabat pemerintah lainnya menyatakan bahwa militer Iran telah dihancurkan.

(Sumber:Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, AS Minta Selat Hormuz Dibuka.)

Dividen Bank Mega Direncanakan Rp2 Triliun, IHSG Melemah dan Asing Catat Jual Bersih

Jakarta (VLF) 

Market Overview

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada Selasa (31/03) dengan penurunan 0,61% ke level 7.048,22.

Pergerakan indeks tertekan di tengah aksi jual investor asing yang membukukan jual bersih Rp1,17 triliun di pasar reguler dan Rp1,28 triliun secara keseluruhan.

Sejumlah saham masih mampu menahan tekanan, seperti INDF, MBMA, dan AMRT yang mencatat kenaikan dan menjadi penopang indeks. Sebaliknya, pelemahan saham BREN, BYAN, dan BRMS turut membebani pergerakan IHSG.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor mengalami koreksi, dengan sektor transportasi turun paling dalam sebesar 4,60%. Sementara itu, sektor barang konsumsi non-primer menjadi yang paling menguat dengan kenaikan 1,48%.

Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat justru mencatat penguatan. Indeks Dow Jones naik 2,49% ke 46.341, diikuti S&P 500 yang menguat 2,91% ke 6.528, serta Nasdaq yang melonjak 3,83% ke 21.590. Sentimen positif dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana penarikan militer AS dari Iran dalam waktu 2–3 minggu.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan lanjutan setelah adanya indikasi penambahan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk rencana pengiriman kapal induk USS George H. W. Bush. Kondisi ini membuat Indeks MSCI Indonesia terkoreksi 0,47%, meskipun ETF Indonesia (EIDO) sempat menguat 2,13%.

Dari dalam negeri, pemerintah berencana mulai menerapkan program Biodiesel 50 (B50) per 1 Juli sebagai bagian dari efisiensi konsumsi energi.

Kebijakan ini diperkirakan dapat menekan subsidi BBM hingga Rp48 triliun dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil sekitar 4 juta kiloliter dalam setahun. Langkah tersebut dinilai berpotensi memberikan dorongan bagi emiten di sektor kelapa sawit, khususnya yang memiliki aktivitas kuat di segmen hulu.

Berita Emiten

  • PT Bank Mega Tbk (MEGA)

MEGA menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana pembagian dividen sebesar Rp2 triliun untuk tahun buku 2025, meningkat dibandingkan Rp1,05 triliun pada tahun sebelumnya. Nilai dividen per saham diperkirakan mencapai Rp171,95, dengan rasio pembayaran dividen berpotensi naik menjadi 60% dari sebelumnya 31,28%.

Selain itu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada 31 Maret, perseroan juga menetapkan penyisihan laba sebesar Rp35,10 juta sebagai dana cadangan sesuai ketentuan yang berlaku. Tak hanya itu, pemegang saham turut menyetujui pembagian saham bonus yang bersumber dari agio saham dengan total nilai mencapai Rp5,87 triliun.

Sejumlah pelaku pasar mencermati langkah korporasi ini sebagai bagian dari strategi perseroan dalam menjaga daya tarik bagi pemegang saham, di tengah dinamika pasar yang masih berfluktuasi.

Rekomendasi Saham Hari Ini

BWPT – Buy 125-127 | TP 132-138 | SL 119

ARCI – Buy 1365-1375 | TP 1400-1445 | SL 1290

BKSL – Buy 109-112 | TP 115-119 | SL 104

MBMA – Buy 715-725 | TP 750-770 | SL 680

ERAA – Buy 374-378 | TP 388-394 | SL 360

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

(Sumber:Dividen Bank Mega Direncanakan Rp2 Triliun, IHSG Melemah dan Asing Catat Jual Bersih.)

Update Harga BBM Hari Ini 1 April 2026, Pertamax hingga Dexlite

Jakarta (VLF) – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina tidak mengalami kenaikan pada 1 April 2026. Kepastian ini disampaikan setelah adanya koordinasi antara pemerintah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta pihak Pertamina.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas. Meski harga minyak dunia tengah mengalami kenaikan, pemerintah tetap menahan harga BBM agar tidak membebani masyarakat.

“Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga baik untuk BBM subsidi maupun BBM non-subsidi,” ujar Prasetyo dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).

Harga BBM Pertamina April 2026 Tidak Naik

Dengan keputusan tersebut, harga BBM di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, masih sama seperti bulan Maret 2026. Artinya, masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya lonjakan harga di awal bulan ini.

BBM nonsubsidi seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Turbo (RON 98), Pertamax Green 95, Dexlite, dan Pertamina Dex tetap dijual dengan harga sebelumnya. Sementara itu, BBM subsidi juga tidak mengalami perubahan.

Harga Pertalite masih dipatok Rp 10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi (Biosolar) tetap Rp 6.800 per liter.

Rincian Harga BBM di Jawa Barat

Bagi masyarakat di wilayah Jawa Barat, berikut daftar harga BBM Pertamina per 1 April 2026:

  • Pertalite: Rp 10.000 per liter
  • Solar (Biosolar): Rp 6.800 per liter
  • Pertamax: Rp 12.300 per liter
  • Pertamax Turbo: Rp 13.100 per liter
  • Pertamax Green 95: Rp 12.900 per liter
  • Dexlite: Rp 14.200 per liter
  • Pertamina Dex: Rp 14.500 per liter

Harga tersebut berlaku di SPBU Pertamina di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Harga BBM Pertamina 1 April 2026 Lengkap se-Indonesia

  • Berikut harga lengkap BBM Pertamina dari Sabang sampai Merauke:
    Aceh

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Free Trade Zone (FTZ) Sabang

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 11.500/liter

Dexlite: Rp 13.250/liter

  • Sumatera Utara

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Sumatera Barat

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.900/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.650/liter

Dexlite: Rp 14.800/liter

Pertamina Dex: Rp 15.100/liter

  • Riau

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.900/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.650/liter

Dexlite: Rp 14.800/liter

Pertamina Dex: Rp 15.100/liter

  • Kepulauan Riau

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.900/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.650/liter

Dexlite: Rp 14.800/liter

Pertamina Dex: Rp 15.100/liter

  • Free Trade Zone (FTZ) Batam

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 11.750/liter

Pertamax Turbo: Rp 12.400/liter

Dexlite: Rp 13.450/liter

Pertamina Dex: Rp 13.800/liter

  • Jambi

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Bengkulu

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Sumatera Selatan

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Bangka Belitung

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Lampung

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • DKI Jakarta

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Banten

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Jawa Barat

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Jawa Tengah

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Yogyakarta

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Jawa Timur

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Pertamax Green 95: Rp 12.900/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Bali

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Nusa Tenggara Barat

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.300/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.100/liter

Dexlite: Rp 14.200/liter

Pertamina Dex: Rp 14.500/liter

  • Nusa Tenggara Timur

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Kalimantan Barat

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Kalimantan Tengah

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Kalimantan Selatan

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.900/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.650/liter

Dexlite: Rp 14.800/liter

Pertamina Dex: Rp 15.100/liter

  • Kalimantan Timur

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Kalimantan Utara

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.900/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.650/liter

Dexlite: Rp 14.800/liter

Pertamina Dex: Rp 15.100/liter

  • Sulawesi Utara

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Gorontalo

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Sulawesi Tengah

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Sulawesi Tenggara

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Sulawesi Selatan

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Sulawesi Barat

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

  • Maluku

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

  • Maluku Utara

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

  • Papua

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Pertamax Turbo: Rp 13.350/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

  • Papua Barat

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800

  • Papua Selatan

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

  • Papua Pegunungan

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

  • Papua Tengah

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

  • Papua Barat Daya

Pertalite: Rp 10.000/liter

Solar: Rp 6.800/liter

Pertamax: Rp 12.600/liter

Dexlite: Rp 14.500/liter

Pertamina Dex: Rp 14.800/liter

Alasan Harga BBM Ditahan

Meski harga minyak dunia saat ini tengah tinggi, pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat.

Selain itu, keputusan ini juga merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampak fluktuasi harga energi global yang tidak menentu.

Komitmen Pertamina Jaga Ketersediaan Energi

Melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, Pertamina menegaskan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi di seluruh wilayah Indonesia.

Pihak perusahaan memastikan pasokan BBM tetap aman dan distribusi berjalan lancar, sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian berlebihan.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap menggunakan energi secara bijak dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang belum tentu benar.

Sebagai informasi, pada Maret 2026 lalu, harga BBM nonsubsidi sempat mengalami kenaikan. Misalnya di wilayah DKI Jakarta, harga Pertamax naik menjadi Rp 12.300 per liter dari sebelumnya Rp 11.800 per liter pada Februari 2026.

Namun, untuk April 2026, pemerintah memutuskan tidak ada penyesuaian harga, baik untuk BBM subsidi maupun nonsubsidi.

Pemerintah dan Pertamina mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Ketersediaan BBM disebut dalam kondisi aman dan mencukupi untuk kebutuhan nasional.

Masyarakat juga disarankan untuk selalu memantau informasi resmi terkait harga BBM melalui kanal resmi Pertamina atau pemerintah, guna menghindari informasi yang tidak akurat.

(Sumber:Update Harga BBM Hari Ini 1 April 2026, Pertamax hingga Dexlite.)