Jakarta (VLF) – Puluhan ribu pegawai negeri sipil (PNS) di Prancis turun ke jalan untuk memprotes rencana anggaran pemerintah sekaligus menuntut kenaikan gaji. Aksi tersebut melibatkan berbagai profesi, mulai dari guru, petugas pemadam kebakaran (damkar), hingga tenaga kesehatan.
Dilansir detikFinance, aksi mogok kerja dan demonstrasi itu berlangsung pada Selasa (29/9/2026). Serikat pekerja memperkirakan sekitar 300.000 orang berpartisipasi dalam aksi mogok selama satu hari yang digelar secara nasional.
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat lebih dari 11% guru dan staf sekolah turut melakukan aksi mogok. Kondisi tersebut menjadi sorotan mengingat rata-rata gaji guru di Prancis masih lebih rendah dibandingkan pendidik di sejumlah negara Eropa lainnya.
Secara umum sedikitnya kurang dari 1 per 10 PNS lainnya ikut serta, dan jumlah peserta demonstrasi ini lebih sedikit untuk para pekerja di rumah sakit. Jumlah PNS yang demo ini tergolong cukup terbatas karena terancam kehilangan gaji satu hari.
Menurut serikat pekerja, pemerintah mengusulkan menahan gaji pokok PNS 2027 demi menghemat 2 miliar euro atau Rp 40,26 triliun (kurs Rp 20.130). Ini akan menjadi pembekuan upah tahunan keempat berturut-turut dan yang kedelapan selama masa jabatan Presiden Emmanuel Macron.
Serikat pekerja mengatakan kebijakan pembekuan upah tersebut telah mengurangi daya beli pekerja hingga dua digit, sehingga mereka turut menuntut kenaikan upah 6%.
“Kemarahan ini tidak akan hilang. Pemerintah harus meninjau kembali anggaran tersebut,” kata Sophie Binet selaku sekretaris jenderal Konfederasi Umum Buruh.
Demonstrasi Terus Berlanjut
Meski aksi demonstrasi yang dilakukan oleh PNS hanya berlangsung satu hari, banyak siswa dan mahasiswa di Prancis terus turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan mereka atas rendahnya rencana anggaran pendidikan pada tahun fiskal mendatang.
Berdasarkan laporan DW, lebih dari 400 sekolah dan perguruan tinggi di seluruh Prancis tutup pada Jumat (2/10) waktu setempat karena protes mahasiswa terkait pendidikan terus berlanjut. Beberapa aksi di antaranya berubah ricuh yang disertai penangkapan hingga mendorong pembakaran.
Sekitar 400 sekolah atau perguruan tinggi yang ditutup rusak di tengah demonstrasi, salah satu yang paling parah dampaknya adalah Lycee (tingkat sekolah menengah atas di Prancis) Mandela di Nantes, yang diperkirakan tutup hingga pertengahan Oktober setelah kebakaran di aula masuk.
Para siswa dan mahasiswa ini melakukan aksi protes atas kondisi kekurangan guru, bangunan sekolah yang bobrok, dan kurangnya bahan ajar. Menurut Menteri Pendidikan Prancis, Edouard Geffray, polisi telah menangkap 2.000 orang dan puluhan orang terluka, termasuk 40 kepala sekolah menengah atas.
Kemudian satu mobil dibakar di kota Strasbourg. Sementara polisi anti huru hara bentrok dengan para pemuda di Toulouse.
Di wilayah tenggara Auvergne-Rhone-Alpes, pihak berwenang mengklaim bahwa kerusakan telah terjadi di wilayah yurisdiksi mereka saja telah menimbulkan kerugian 25 juta euro atau Rp 503,25 miliar. Wilayah Ile de France yang meliputi Paris memperkirakan kerusakan sekitar 7 juta euro atau Rp 140,91 miliar.
(Sumber:300 Ribu PNS-Nakes Prancis Demo Tolak Pembekuan Gaji dan Tuntut Kenaikan 6%.)
