Jakarta (VLF) – Kelompok bersenjata Houthi yang berbasis di Yaman dikabarkan melancarkan serangan terhadap fasilitas kilang milik perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, pada Minggu (9/8/2026) pagi. Pemerintah Arab Saudi menyatakan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Dilansir detikNews dari CNBC, serangan tersebut menyasar fasilitas Saudi Aramco yang berada di Jazan. Hingga Minggu siang, petugas pemadam kebakaran masih melakukan upaya untuk mengendalikan api yang muncul di area kilang.
“Pihak berwenang sedang menyelesaikan prosedur yang diperlukan untuk menangani insiden tersebut,” tulis Kementerian Energi Arab Saudi dalam unggahan resmi X, dikutip dari CNBC, Minggu (9/8/2026).
Houthi, kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Iran, turut mengonfirmasi serangan tersebut. Mereka menyebut serangan dilakukan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone dan ditujukan ke fasilitas Aramco di Jazan.
Kelompok tersebut menyatakan serangan merupakan respons terhadap dugaan pelanggaran wilayah udara Yaman oleh drone milik Arab Saudi.
“Angkatan Bersenjata Yaman mengatakan mereka menyerang kilang Aramco milik Arab Saudi di Jizan pada hari Minggu, dan menggambarkan serangan pesawat tak berawak itu sebagai serangan yang tepat sasaran dan dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran wilayah udara Yaman oleh pesawat tak berawak Saudi,” tulis laporan kantor berita Iran, Mehr.
Houthi sebelumnya juga beberapa kali mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco sejak konflik di kawasan tersebut dimulai.
Insiden terbaru itu terjadi di tengah situasi hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) yang masih diwarnai ketegangan. Kedua negara diketahui belum kembali melakukan pembicaraan langsung terkait upaya perdamaian.
Gencatan pertempuran antara AS dan Iran setelah tercapainya nota kesepahaman pada 17 Juni juga tidak berlangsung lama. Setelah periode tersebut, Iran kembali melancarkan serangkaian serangan menggunakan drone dan rudal selama beberapa pekan. Sasaran serangan antara lain kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz serta sejumlah negara Teluk di sekitarnya.
AS kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan dirinya tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan AS. Dalam proses negosiasi tersebut, Oman disebut memainkan peran penting sebagai mediator, terutama dalam pembahasan mengenai persoalan Selat Hormuz.
“Pembicaraan dengan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali. Kesepakatan mungkin tercapai, tetapi pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada kondisi lain yang disampaikan melalui perantara,” kata Araghchi.
Araghchi sebelumnya juga menyampaikan bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan mengenai pengaturan navigasi untuk jalur transit tertentu.
