Orang Kaya Mulai Kurangi Properti, Saham dan Kripto Dinilai Lebih Menarik

Jakarta (VLF) – Pemerintah tahun ini membebaskan pajak 100 persen untuk setiap pembelian rumah di bawah Rp 2 miliar. Tujuannya untuk mendorong penjualan properti.

Ternyata hal ini benar berefek menurut pengamat properti sekaligus CEO of Indonesia Property Watch Ali Tranghanda. Secara keseluruhan, penjualan rumah pada Q1 2026 sebenarnya menurun. Namun, PPN DTP jadi penggerak utama penjualan hunian Rp 2 miliar ke bawah. Sebab, kebanyakan yang terjual adalah rumah ready stock.

Hal ini ia ungkapkan setelah acara Press Conference The People’s Choice 2026, Indonesia’s Top Consumer Voted Awards, di Raffles Hotel Jakarta.

“Penjualan (properti) lagi turun. Tapi sebagian besar yang beli itu menggunakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Tapi penjualan malah turun. Tapi PPN DTP salah satu yang menyebabkan bisa masih masih mendorong lah penjualan itu. Kalau nggak ada PPN DTP mungkin penjualan makin jatuh lagi,” kata Ali, pada Senin (10/8/2026).

Ali menilai buruknya pasar properti awal tahun ini disebabkan oleh kondisi ekonomi dan lesunya daya beli masyarakat. Selain itu, maraknya kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) membuat kelas menengah ke bawah khawatir dan mengerem untuk membeli rumah.

“Pasti itu ekonomi dan segala macam. Pasti terjadi, karena ini kita sejak Q1 awal 2026 ini trennya menurun terus. Menengah bawah juga rentan. Beli dan segala macam. Isu-isu PHK segala macam,” jelasnya.

Kondisi pasar yang lesu ini juga terjadi di kelas atas. Meskipun dari beberapa data yang diungkap oleh konsultan properti bahwa rumah Rp 5 miliar ke atas laris manis setiap dipasarkan, tetapi pasar ini jumlahnya sedikit sekali jika dibandingkan dengan pasar properti kelas bawah. Selain itu, jika melihat di kawasan Pondok Indah dan Menteng banyak ditemui rumah mewah dijual.

Menurut Ali penjualan properti tersebut dikarenakan orang-orang kaya sudah terlalu banyak aset dan ingin mengurangi.

“Di menengah atas itu udah kebanyakan dia buang aset. Jadi itu yang membuat pasar agak sedikit terganggu,” sebutnya.

Selain itu, saat ini jenis investasi semakin banyak, seperti kripto dan saham yang dinilai lebih menguntungkan dibanding properti yang nilainya tumbuh ketika disimpan dalam waktu lama.

“Properti itu bukan primadona. Penjualannya itu nggak bagus. Kenaikannya nggak membuatnya menarik. Mungkin dia main saham, main kripto, itu mungkin lebih menarik atau emas. Tapi kalau kita bicara yang 5 tahun sebelumnya itu (properti) primadona,” ujarnya.

(Sumber:Orang Kaya Mulai Kurangi Properti, Saham dan Kripto Dinilai Lebih Menarik.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *