Tolak Ganti Rugi Rp 209 Ribu per Meter, Rumah Ini Berakhir Dijepit Tol

Jakarta (VLF) – Pemandangan yang tak lazim terlihat di sebuah ruas jalan tol di India. Di tengah jalur yang sudah beroperasi, berdiri sebuah rumah yang seolah “memotong” akses jalan.

Bangunan itu dikenal sebagai Rumah Swabhiman, milik Dr. Veersen Saroha, seorang warga yang menolak untuk angkat kaki dari lahannya. Penolakan ini berakar sejak 1998, ketika Dewan Perumahan Uttar Pradesh merencanakan pembangunan kawasan permukiman di atas tanah milik Veersen-jauh sebelum proyek jalan tol digagas.

Program Perumahan Mandola tersebut menargetkan enam desa dengan total kebutuhan lahan mencapai 2.614 hektare. Sekitar 1.000 petani dan pemilik rumah terdampak dalam proyek ini, termasuk Veersen yang lahannya turut masuk dalam rencana penggusuran.

Namun, Veersen menolak karena nilai ganti rugi yang ditawarkan dinilai terlalu rendah, hanya sekitar Rp209 ribu per meter persegi. Sementara itu, sekitar 94 persen warga lain yang terdampak dilaporkan telah menerima kompensasi tersebut.

Pada 2007, Veersen membawa sengketa ini ke Pengadilan Tinggi Allahabad dengan tuntutan kenaikan nilai ganti rugi. Proses hukum pun berjalan cukup lama. Di tengah ketidakpastian itu, Dewan Perumahan Uttar Pradesh tetap melanjutkan penetapan batas lahan tanpa menunggu putusan pengadilan.

Mengutip The Indian Express, sebelum perkara tersebut mencapai titik akhir, Veersen meninggal dunia. Kepemilikan lahan itu kemudian diwariskan kepada cucunya, Lakshyaveer Saroha.
Beberapa tahun kemudian, Otoritas Jalan Raya Nasional India (NHAI) mengumumkan akan meluncurkan jalan tol dari Akshardham di Delhi ke Dehradun di Uttarakhand pada 2020 dengan panjang jalan 212 km. Proyek tersebut melewati lahan rumah Saroha.

Terdapat 2 jalanan yang akan dibangun, yakni Akshardham ke perbatasan UP di Loni sepanjang 14,7 km dan 16 km dari Loni ke Khekra di EPE. Kedua bagian ini telah selesai kecuali 1.600 meter persegi yang merupakan lahan rumah Veersen yang tidak bisa digusur karena tanah sengketa.

Jalan tol telah diresmikan pada Selasa (14/4/2026) oleh Perdana Menteri India Narendra Modi. Lahan yang sebelumnya dipegang oleh Dewan Perumahan telah diberikan kepada NHAI.

Lakshyaveer Saroha menggugat NHAI ke Mahkamah Agung karena tanah miliknya diberikan kepada NHAI padahal itu bukan tanah pemerintah. Saat ini laporan tersebut sudah diserahkan ke Pengadilan Tinggi cabang Locknow. Mahkamah Agung juga berpesan agar masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat agar seluruh jalan tol dapat beroperasi segera tanpa membahayakan siapa pun.

Ada pun, Jalan Tol Delhi-Dehradun ini dibangun karena bisa memangkas waktu tempuh antara kedua kota dari 6 jam menjadi hanya 2-2,5 jam. Estimasi biaya proyek ini sekitar Rp 22-25 triliun. Dibuat dengan enam jalur yang terkontrol aksesnya dan batas kecepatan 100 km/jam. Koridor ini mencakup 14 fasilitas di sepanjang jalan, beberapa jembatan, persimpangan, dan jembatan layang kereta api.

Berdasarkan keterangan The Indian Express, rumah tersebut tidak dihuni oleh ahli warisnya, kata Jaipal Singh (46), satpam rumah tersebut. Pemiliknya tinggal di kota lain, yakni Noida.

Jaipal Sing mengungkapkan pekerjaan terkadang cukup berat karena harus menjaga rumah dari hewan, orang-orang yang mencoba masuk ke dalam rumah, dan kebisingan kendaraan yang lewat dengan kecepatan hingga 100 km/jam di Jalan Tol Delhi-Dehradun.

Kini rumah tersebut masih berdiri seperti penampakan rumah pada tahun 1990-an. Jaipal mengatakan rumah itu terdiri dari dua lantai seluas hampir 1.600 meter persegi di Mandola dekat Loni di Ghaziabad.

Rumah itu telah diapit oleh jalan tol di area depan dan belakang. Sementara bagian kanannya adalah pepohonan tinggi dan rimbun serta area kiri rumah berupa tanah kosong yang terlihat bekas digali.

(Sumber:Tolak Ganti Rugi Rp 209 Ribu per Meter, Rumah Ini Berakhir Dijepit Tol.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *